Jumat, 12 Maret 2010

To Be Pleasing YOU


TALENTA
(Matius 25:14-30; 1 Korintus 12)

Talenta adalah ukuran timbangan di Timur Tengah pada zaman Alkitab sebesar 3000 syikal (sekitar 34 kilogram). Dalam Perjanjian Baru satu talenta merupakan ukuran jumlah uang yang sangat besar nilainya, yaitu enam ribu dinar, upah minimum 6000 hari kerja (upah sekitar 16,4 tahun bekerja) pada masa itu.
Dalam Matius 25:14-30 perumpamaan talenta dipakai oleh Tuhan Yesus untuk menjelaskan tentang Kerajaan Sorga.
Kerajaan Sorga diumpamakan seperti seorang Tuan yang mempercayakan hartanya, talenta yang memiliki nilai tinggi kepada para hamba-hambanya.
Dengan demikian, sang pemilik talenta adalah sang Tuan tersebut dan para hambanya hanya dipercayakan untuk mengelolanya (14). Sama seperti seorang pegawai sebuah perusahaan yang mendapat banyak fasilitas dari kantornya, maka semua fasilitas itu merupakan milik kantor bukan milik pegawai tersebut, tetapi fasilitas-fasilitas yang diberikan kantor tersebut menjadi talenta yang dipercayakan untuk pengembangan kantornya.
Ketika talenta yang sangat bernilai itu diberikan kepada 3 orang hambanya, perbedaan jumlah pemberian talenta dikerjakan sang Tuan menurut kesanggupan masing-masing (15).
Prinsip yang dapat ditarik tentang Talenta dalam konteks Kerajaan Sorga adalah:
1. Talenta adalah segala hal yang Tuhan percayakan kepada manusia untuk dikelola demi Kerajaan Sorga, antara lain harta, waktu, ilmu, bakat, ”spiritual gifts” (1 Kor. 12), dan lain-lain. Segala yang kita miliki merupakan pemberian Tuhan yang dipercayakan kepada manusia, dengan demikian Sang Pemilik sejati dari apa yang manusia miliki adalah Tuhan, manusia hanya diberi kepercayaan untuk mengelolanya bagi Kerajaan Sorga.
2. Sang Tuan memberikan talenta berbeda-beda berdasarkan kesanggupan penerimanya, dengan demikian, setiap manusia memiliki kesanggupan untuk mengelola apa yang Tuhan percayakan untuk Kerajaan Sorga. Dosalah yang membuat kesanggupan mengelolah apa yang dipercayakan Tuhan tidak disasarkan bagi Kerajaan Sorga, melainkan disasarkan bagi kepuasan diri semata. Oleh karena itu ke”pemilik”an talenta yang tidak disertai dengan hidup yang telah dimerdekakan dari dosa cenderung tidak berdampak bagi Kerajaan Sorga.
3. Talenta yang dikelola dengan baik dan setia adalah hal yang dipuji oleh Sang Pemberi talenta (Mat. 25:21, 23). Bukan kuantitas talenta yang menentukan pujian Sang Pemberi, melainkan kualitas pengelolaannya yang baik dan setia. Sebaliknya Tuhan mengecam mereka yang tidak mengelola dengan baik dan setia, bahkan sama sekali tidak mengelola talenta yang telah dipercayakan kepada mereka.
1 Korintus 12 secara spesifik membahas tentang ”spiritual gifts” (karunia-karunia Roh), karena nampaknya jemaat Korintus mengalami konflik karena karunia-karunia Roh ini. Ada sebagian jemaat merasa superior (1 Kor. 12:21) karena karunia-karunia rohani yang mereka miliki dan itu menyebabkan sebagian jemaat menjadi inferior (1 Kor. 12:15-16) dengan karunia-karunia rohani yang bagi mereka tidak ”sehebat” yang dimiliki mereka yang merasa diri superior
Rasul Paulus memaparkan beberapa prinsip penting tentang ”spiritual gifts” agar yang superior dan yang inferior bertobat.
1. Allah Tritunggal adalah sumber yang mengaruniakan rupa-rupa karunia, rupa-rupa pelayanan dan yang mengerjakan berbagai-bagai perbuatan ajaib (1 Kor. 12:4-6), sehingga jemaat Korintus yang menerima rupa-rupa karunia, pelayanan dan perbuatan-perbuatan ajaib sangat tidak pantas untuk menyombongkan diri, iri hati atau rendah diri karena apa yang mereka terima dari Allah Tritunggal tersebut.
2. Allah Tritunggal mengaruniakan karunia-karunia Roh itu untuk kepentingan bersama (1 Kor. 12:7), bukan untuk kepentingan diri atau kepentingan segelintir atau sekelompok jemaat. Jadi bila karunia rohani dimanfaatkan untuk kepentingan diri atau kelompok atau untuk mencari puji-pujian yang sia-sia, maka manfaat karunia rohani diberikan menjaadi sia-sia, tak berguna bahkan melemahkan dan mengacaukan (1 Kor. 14:23).
Macam-macam karunia-karunia rohani:
1. Karunia-karunia rohani yang Allah anugerahkan tanpa proses pembelajaran, seperti bahasa lidah, bernubuat, karunia membuat mujizat. Pemberian karunia-karunia rohani ini hanya ditentukan oleh Allah sesuai dengan kehendak dan waktu Allah berkenan memberikannya.
2. Karunia-karunia rohani yang makin berkualitas ketika diasah terus dalam proses pembelajaran, seperti karunia mengajar, karunia menasehati, karunia memimpin.
3. Karunia-karunia rohani yang diperoleh dari lahir, ini biasa disebut bakat, seperti karunia dalam hal musik atau seni.
Bagaimana mengetahui akan karunia-karunia rohani yang dipercayakan Allah kepada kita?
1. Melalui hal-hal positif yang diminati dalam waktu panjang, seperti suka bernyanyi, suka memainkan alat-alat musik tertentu, suka melukis, suka berbicara secara sistematis, suka mendengar dengan seksama dan sabar ketika orang lain bercerita. Semua ini diminati bukan dalam waktu yang singkat dan semua itu dikerjakan tanpa mudah jemu, inilah salah satu indikasi Allah menganugerahkan karunia-karunia rohani itu kepada kita.
2. Melalui pujian tulus yang diberikan orang lain yang menikmati apa yang kita lakukan, seperti pujian yang tulus tentang suara kita yang bagus, tentang permainan musik kita yang indah, tentang tulisan kita yang menjadi berkat, tentang kepemimpinan kita yang sangat dinikmati. Pujian tulus dari orang lain merupakan salah satu cara Allah meneguhkan karunia rohani yang Allah percayakan kepada kita.
3. Melalui hasil yang cepat dalam proses pembelajaran (bagi karunia rohani yang kedua dan ketiga di atas). Dalam proses pembelajaran, bagi yang memiliki bakat akan jauh lebih pesat hasilnya jika dibandingkan dengan mereka yang tidak mendapatkan bakat tersebut.
Talenta merupakan sesuatu yang sangat bernilai yang diberikan Allah kepada kita agar melaluinya kita dapat berkarya nyata bagi Kerajaan Sorga. Kiranya orientasi pengelolaan segala hal yang kita ”miliki”, baik harta benda, ilmu, waktu, ”spiritual gifts”, dan lain-lain, diarahkan hanya bagi Kerajaan Sorga, bagi Allah dan kehendak-Nya, dengan demikian tercapailah tujuan Allah menganugerahkan talenta dalam hidup kita.
Betapa pentingnya penginjilan dan pemuridan dikerjakan secara serius, karena buahnya akan menghasilkan pribadi-pribadi yang semakin tepat mengelola segala yang Allah percayakan dalam hidup mereka.
Kerjakanlah pengelolaan talenta, segala hal bernilai yang Allah percayakan itu dengan baik dan setia.
The measure of your usefulness
Is
The measure of your faithfulness

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

 
;